Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki populasi penduduk terbanyak. Pada tahun 2025 populasi Indonesia diperkirakan mencapai 285.721.000 jiwa. Hal ini menjadikannya sebagai negara dengan populasi terbanyak keempat di dunia setelah India, China, dan Amerika Serikat. Hal ini menjadikanIndonesia semakin memiliki kepercayaan diri dan mempersiapkan diri untuk Indonesia Emas tahun 2045. Berdasarkan signifikan pertumbuhan penduduk Indonesia, semakin signifikan pula jumlah pengguna internet di Indonesia. Mengutip laporan terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bertajuk “Profil Internet Indonesia 2025”, pada semester pertama tahun ini jumlah pengguna internet di Tanah Air telah mencapai 229.428.417 jiwa. Pengguna internet di Indonesia mencapai 80,66 persen. Artinya, 8 dari 10 penduduk Indonesia telah memiliki akses ke internet. Dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini, capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa teknologi digital telah merambah hampir seluruh lapisan masyarakat.
Adapun peran generasi hari ini dalam kehidupan digital memiliki dua sisi yang berbeda, yakni proses penerimaan segala macam informasi serta kebutuhan hadir dalam sekejap mata. Namun sisi lainnya menjadikan hal ini sebagai bumerang tatkala penikmat digital saat ini adalah generasi muda terlebih Gen Z yang memiliki tantangan krisis akhlak karena dihadapkan dengan situasi kompleks juga kontradiksi. Sebagai contoh pengetahuan dan lini
kehidupan bisa di akses hanya dalam satu genggaman gawai di tangan. Hal ini juga berdampak siapa pun memiliki peluang besar untuk memasuki ranah akses yang tidak sepenuhnya bermoral dan bernilai baik
akhlak dalam sosial media:
1. Generasi muda kehilangan jati dirinya serta adab dalam berkomunikasi. Seolah-olah berkata tidak santun adalah bentuk dari gaya komunikasi yang asik dan gaul sehingga tak segan melabelkan seseorang yang tidak sejalan dengannya dengan kalimat buruk, maka lenyaplah sudah rasa empati terhadap sesama.
2. Melegalkan atau menormalisasikan segala bentuk penyimpangan atas dasar kebebasan berpendapat, mengumpat yang tidak berdasar, atau pembenaran atas pernyataan penuh kemudharatan dan itu semua di dukung penuh oleh orang – orang yang mengatakan jangan sedikit-dikit berbicara tetang agama untuk menghargai sesama. Pemahaman yang seperti inilah yang menjadi pisau tajam untuk generasi saat ini, karena karakter berkehidupan agama tidak dibangun dengan baik pondasinya. Padahal sejatinya Islam adalah Rahmatan Lil Alamin. Sebagai negara yang memiliki penganut Muslim terbanyak yang sempat menduduki peringkat pertama di dunia tentunya Indonesia memiliki pemahaman kuat terkait praktik agama. Agama Islam sangat erat kaitannya dengan pemahaman konsep akan akhlak. Hal ini berhubungan dengan sosok Rasulullah Muhammad SAW sebagai sosok suri tauladan terbaik bagi umat muslim. Akhlak merupakan bentuk kepedulian kita dalam memberikan pemahaman kepada sesama dan sebagai wujud dakwah kita. Akhlak dalam Islam juga senantiasa menekankan berprilaku, bersikap, dan berkarakter yang mencerminkan sifat baik & moralitas. Maka solusi yang harus dilakukan adalah:

Membentuk generasi unggul perlu untuk menengok kembali, bersadar diri, dan menjadikan digital sebagai salah satu bentuk perkembangan zaman yang dapat kita ikuti arus perkembangannya tanpa harus meninggalkan pondasi penting yakni akhlak. Tingkat keimanan seorang hamba juga tidak hanya untuk ritual ibadah utama semata namun mencangkup seluruh aspek kehidupannya. Sebagai umat muslim dan generasi muda khususnya harus mampu mewujudkan kebaikan dalam beretika sosial.
Red : Inggar jati, S.Ds
majalah At-Tanwir edisi 3
![]()





